Saturday, March 22, 2014

Bila Bertemu Denganmu

Bila Bertemu Denganmu

Bila bertemu denganmu, hal pertama yang kulakukan adalah berucap terima kasih padamu. Kamu telah membantu aku yang gaptek dan menjagaku dari kesan yang buruk. Itu semua lewat media online. Kamu memang hebat, kuakui hal itu. Hampir 2 tahun bukanlah waktu yang singkat. Dan selama itulah aku mengharapkanmu hadir nyata di sisiku. 

Tentang perasaanku padamu, kukira kamu pun telah tahu. Namun yang pasti bahwa aku mencoba untuk menghapus segala pesonamu dari hatiku. Aku merasa hal itu sangat tak pantas untuk kulakukan. Karena bila aku menikah muda, maka aku akan dapatkan anak seumurmu, he he he .... tua bener ya aku? Itulah yang membuatku malu bila bertemu kamu yang masih sangat muda. 

Namun entah perasaan ini datangnya dari mana, begitu tiba-tiba, begitu sekonyong-konyong koder .... he he he. Percayalah bahwa aku akan bisa melupakanmu bila sudah bertemu nanti. Aku hanya dipenuhi rasa penasaran yang membabi buta dalam dadaku. Ini salah, ini jelas salah. Tatapan matamu di Photo Profile facebook itu begitu menghunjam ke dalam dadaku menembus masuk ke relung-relung hatiku. Wow puitisnya! 

Mungkin segalanya tak akan pernah sama lagi jika kita bertemu. Kita negosiasikan hubungan kita, mau seperti apa. Aku tak berharap banyak, sungguh!. Jika boleh berteman pun aku sangat senang. Mempunyai teman sepertimu yang jaksa muda tentu membanggakan. Sama seperti mempunyai mantan yang seorang jaksa juga. Aih aih. Oh bukan itu maksudku. Aku tak terlalu melihat profesi kok, yang penting mempunyai pekerjaan yang baik. 

Tahukah, bahwa kamu ibarat ombak yang menderu di tepian pantai? Sekali di atas sekali di bawah. Sekali good mood sekali bad mood. Itulah kamu. Seperti beberapa hari belakangan ini, kamu terlihat sangat bad mood terhadapku. Mengapa? Aku tak merasa salah apapun. Barangkali kamu sedang kepincut pada pesona wanita Jakarta yang glamor dan berkarier. Tak masalah sebenarnya. 

Yang tak bisa aku mengerti adalah begitu kontrasnya sikapmu terhadapku dalam beberapa hari saja. Seolah kamu melambungkan anganku terbang tinggi di awan, tetapi setelah itu kamu menghempaskanku ke tanah, hingga aku kesakitan. Namun seolah kamu tak pedulikanku karenanya. Kamu bilang akan menemuiku di sini suatu saat nanti, tetapi beberapa hari tak ada kabar darimu. Semua akses ke kamu dimatikan. Banyak pertanyaan tentang hal ini yang belum terjawab. Aku hanya bisa meraba-raba, karena apa dan kenapa. 

Jangan pernah berpikir bahwa aku ingin memilikimu selamanya. Tidak. Tidak seperti itu. Bila aku ingin berteman atau bersaudara denganmu selamanya, apa salahnya? Tetapi untuk soal jodoh, itu rahasia Ilahi. Saat ini komunikasi kembali terputus. Aku merasa sedih, seolah ada yang hilang dari jiwaku. Tak ada yang bisa kuperbuat untuk memperbaiki bila aku salah. Nyatanya tak kutemukan kesalahanku. Jadi tolong tunjukkan apa salahku. 

Di sini di Kota Solo ini kita pasti bertemu, biar Tuhan berkenan pertemukan kita. Bukankah Tuhan juga yang telah perkenalkan kita, meskipun itu lewat dunia maya? Pasti ada maksud Tuhan yang tersembunyi yang belum kita ketahui. Jangan takut, aku tak akan memakanmu he he he. Jadilah temanku, paling tidak. Temanku yang nyata. Eh ngarep ya? 

Artikel Terkait :


 

0 comments: