Saturday, January 4, 2014

Panggilan Kekasih (Kahlil Gibran)

Di manakah kau, cintaku? Apakah kau dalam Surga kecil, menyiram bunga yang menatapmu bagai bayi menatap dada ibu-ibu mereka?

Atau kau berada di kamarmu, di mana kuil Kebajikan ditempatkan untuk menghormatimu, dan di mana kau menawarkan hati dan jiwaku sebagai persembahan?

Oh, teman sejiwaku, di manakah kau? Apakah kau sedang berdoa di kuil? Atau memanggil alam di ladang, tempat mimpi-mimpimu?

Apakah kau dalam pondok orang miskin, menghibur kepedihan hati dengan manisnya jiwamu, dan mengisi tangan mereka dengan limpahanmu?

Kau adalah roh Tuhan di mana-mana.

Kau lebih kuat daripada waktu.

Apakah kau memiliki kenangan di hari kita bertemu, ketika halo jiwamu mengelilingi kita, dan Malaikat Cinta mengambang, menyanyikan lagu pujian untuk perbuatan jiwa?

Apakah kau mengumpulkan kembali tempat duduk kita di antara ranting pohon, meneduhkan diri dari Umat Manusia, bagai rusuk melindungi jantung rahasia ketuhanan dari luka?

Ingatkah kau pada jalan dan hutan yang kita lalui, dengan tangan bergandengan, dan kepala saling berdempetan, seolah-olah kita sedang bersembunyi dari diri kita dalam diri kita sendiri?

Ingatkah kau saat aku mengucapkan selamat berpisah, dan ciuman Miriamite kau lakukan di bibirku?

Ciuman itu mengajarkanku persatuan bibir cinta menyingkapkan rahasia di mana lidah tidak dapat mengucapkan!

Ciuman itu adalah pengantar desahan yang dalam, seperti napas Yang Kuasa yang mengubah dunia menjadi manusia.

Desahan itu membawa jalanku menuju dunia spiritual, mengumumkan kemenangan jiwaku, dan di sana aku akan mengabadikannya sampai kita bertemu lagi.

Aku ingat  ketika kau menciumku dan menciumku, dengan airmata mengalir di pipimu, dan kau berkata,

"Tubuh duniawi harus sering berpisah untuk tujuan duniawi, dan harus hidup terpisah karena maksud duniawi.

Namun jiwa tetap bersatu aman di tangan Cinta, sampai kematian datang dan mengambil jiwa-jiwa itu untuk Tuhan.

Pergilah, cintaku; Cinta telah memilihmu sebagai wakilnya.

Patuhilah dia, karena ia adalah Keindahan yang menawarkan pada pengikutnya cangkir manisnya kehidupan.

Untuk tangan hampaku, cintamu akan tetap menjadi pengantinku; kenanganmu, pernikahan abadiku".

Di mana kau sekarang, diriku yang lain? Apakah kau bangun dalam keheningan malam?

Biarkan angin sepoi membawakan padamu setiap detak hatiku dan kasih sayangku.

Apakah kau memanjakan wajahku dalam kenanganmu?

Gambaran itu tidak lagi diriku sendiri, karena kepedihan telah menjatuhkan bayangannya di atas paras bahagiaku di masa lalu.

Tangis telah membasahi mataku yang mencerminkan keindahanmu dan mengeringkan bibirku yang kau maniskan dengan ciuman.

Di manakah kau, sayangku? Apakah kau mendengar tangisanku?

Dari luar samudera? Apakah kau mengerti kebutuhanku?

Apakah kau tahu kebesaran kesabaranku?

Apakah ada jiwa di udara yang mampu membawakan kepadamu napas pemuda yang sekarat ini?

Apakah ada komunikasi rahasia antara malaikat yang akan membawa kepadamu keluhanku?

Di manakah kau,bintang indahku? Kesamaan hidup telah melemparkanku pada dadanya; kepedihan telah menaklukanku.

Terbangkan senyummu di udara, ia akan menjaga.

Aku!

Di manakah kau, sayangku?

Oh, betapa agungnya Cinta!

Dan betapa kecilnya aku!

0 comments: