Friday, February 21, 2014

Kucing Yang Baik Hati

Kucing Yang Baik Hati
Binggo yang ganteng

Dia suka mendekapku, menaruh kepalaku di belahan dadanya. Bunyi detak jantungnya terdengar beraturan. Terasa hangat, itu pasti. Dia suka mengajakku berbicara, tapi terkadang diam saja. Tak tahukah bahwa aku ini adalah laki-laki? Meskipun aku hanyalah seekor kucing, tapi aku sangat senang berdekatan dengannya.

Aku menyebutnya mbak Ocha, sebagaimana orang-orang memanggilnya demikian. Dia adalah majikanku, kini. Dia merawatku dengan baik, memberiku makan secara teratur, nasi ikan besekan. Huh! Lagi-lagi aku diberinya nasi bandeng atau nasi tongkol besekan makanan khas kucing kampung. Aku kan kucing blasteran anggora, masak makanannya begitu-begitu saja. Mana makanan kalengnya mbak Ocha? Tapi seharusnya aku bersyukur dengan segala perlakuannya padaku. Aku juga dibolehkan tidur di kasur di bagian kakinya. Kasur bertumpuk dua yang sangat empuk, tak seperti dulu ketika aku masih tinggal di rumahnya Bu Salim yang hanya membolehkan aku tidur di keset lusuh. Soal makanan ya sama saja di sana atau di sini, nasi bandeng khas makanan kucing kampung. Di tempat Bu Salim aku tak pernah disayang-sayang seperti di rumah ini. Bu Salim hanya memberi makan saja, itu saja.

Belum ada sebulan aku tinggal bersama mbak Ocha yang baik hati. Semua bermula dari suatu kejadian. Waktu itu aku bermaksud naik ke atap rumah orang, aku melewati sebuah bangunan berbentuk bulat agak tinggi. Aku tak tahu bahwa ada lubang besar di tengah-tengah bangunan bulat itu, kakiku tak menapak sempurna hingga aku tergelincir dan masuk ke dalam lubang itu. Byuuur!!! Awh! Aku tercebur pada air yang sangat banyak dan dingin sekali. Aku berteriak-teriak sekuat tenagaku:” Ngeooooong!, ngeooong!, ngeoooong!” Kakiku mengepak-ngepak berenang mencoba mencapai tepain sumur, tapi betapa sulitnya.


Kucing Yang Baik Hati
Binggo melamun

Seorang ibu mendatangiku memancingku dengan ember sumur. Sesampai di tanah langsung ada seorang ibu lain yang mengambilku tanpa canggung, belakangan aku tahu namanya adalah mbak Ocha. Dia membawaku ke rumahnya, menaruhku di atas mesin cuci kemudian dengan sigap mengeringkanku dengan kain-kain perca sampai semua air menetes. Kemudian mbak Ocha mengambil handuk dan membelitkan ke tubuhku. Dia membawaku berjalan dan duduk di kursi panjang terbuat dari batu bata yang disemen. Badanku masih saja menggigil menahan dingin. Dipeluknya aku erat sambil sesekali mengeringkanku lagi dan lagi.

Seorang anak kecil perempuan mengambilkanku beberapa potong ikan bandeng goreng. Aku memakannya sedikit. Rasanya tak ada nafsu makan, aku masih trauma tercebur sumur tadi. Beberapa orang turut duduk-duduk di situ menyoal aku. Aku memang suka bermain di daerah ini, tapi baru kali ini saja aku kena nasib sial tercebur sumur.

Lalu mbak Ocha masuk ke rumah, sementara aku ditinggal sendirian di situ. “Kenapa sih aku gak dibawa masuk? Aku kedinginan di sini”.
Kedua kucing sahabatku mendatangiku, Si Merah bertanya:”Hey kamu kenapa basah kuyup begitu?” “Habis nyolong ketahuan ya?” Si Hitam menimpali. “Huh dasar ya, aku lagi kena musibah nih” jawabku agak malas. “Musibah apa?” tanya mereka. Kujawab: “Tercebur sumur” Kedua temenku terkekeh-kekeh:” Hua ha ha ha ha ....” Aku jengkel tapi lebih baik diam. Tapi meskipun begitu, aku sangat sayang pada kedua temenku ini. Dua kucing kakak beradik yang dibuang begitu saja oleh majikannya.


Kucing Yang Baik Hati
Mencari kehangatan pada Binggo

Aku menemukan mereka yang masih kecil waktu itu sedang mengais-ngais makanan sisa di tempat sampah depan mesjid. Mereka yang masih kecil-kecil sudah dipisahkan dengan induknya di saat mereka butuh kasih sayang dan tentu saja masih butuh ASI. Tega nian.

Aku melihat mbak Ocha membuka pintu depan, aku turun dari bangku menuju pintu. Mbak Ocha memanggilku: ”Pus pus ayo masuk” sambil tangannya meraih, mengangkatku dan menggendongku. Hangat rasanya berada di pelukannya yang nyaman. Dia memberiku makanan remahan roti.

Rumah ini tak begitu besar tapi penuh dengan barang-barang yang tertata rapi. Selain mbak Ocha, ada seorang remaja putri yang tadi aku lihat di depan. Rupanya dia tinggal di sini juga. Kemungkinan itu adalah anaknya mbak Ocha. Iya benar, bisa dilihat dari cara mbak Ocha menyapanya:” Din Din lihat kucing ini, ini kucing blasteran lho. Bulunya panjang-panjang tapi hidungnya mancung gak kayak kucing anggora yang pesek. Lucu banget”. “Kucing ini dipek aja ya ma buat kita”, Din Din membelai bulu-buluku yang panjang dan berwarna pirang. Senang sekali nampaknya dia dengan kedatanganku. “Ma kucingnya dikasih nama apa ya ...... ehm ... gimana kalo Binggo aja?” Din Din bertanya pada mamanya. Mamanya menyahut:”Binggo artinya apa tuh?” Din Din bilang:” Binggo artinya blasteran indo dan gorila ha ha ha .....”. ‘Ya terserah kamu ajalah Din” terdengar mbak Ocha menyerah.
 
Kucing Yang Baik Hati
Si Merah dan Si Hitam

Huh! Dasar kucing kampung, mereka mengikutiku masuk rumah juga meski dengan perlahan-lahan takut kena gebuk. Mbak Ocha nampaknya tak keberatan, dia bilang:” Oh ada anaknya, tapi kok beda ya?” Ah mbak Ocha ini gimana sih? Masak aku punya anak dua kunyuk itu. Ya gak mungkinlah. Lagipula aku kucing jantan, bukankah hanya kucing betina yang merawat anak-anaknya? Mana ada dalam sejarah kucing jantan merawat anaknya sendirian? Mending ditinggalin cari lagi kucing betina lainnya.

Sejak saat itu aku aku lupa rumahnya Bu Salim. Sama sekali aku tak pernah pulang. Di sini sangat nyaman, makanan disediakan, aku disayang-sayang, tempat tidurku pun juga empuk. Tapi aku kesal pada diriku sendiri yang selalu berbagi kegembiraan dengan kedua teman kunyukku. Mereka suka masuk ke rumah, makan makananku dan tidur di kasur empuk sepertiku. Sejauh ini mbak Ocha diam saja tak mempermasalahkan. Tapi ketika ada yang buang kotoran di dalam rumah, mbak Ocha jadi repot karenanya. Kasihan juga, sudah menolong tapi malah kena getahnya. Dua teman kunyukku tak lagi boleh bermalam di rumah.

Terkadang aku menyelinap keluar malam-malam saat pintu dapur dibuka. Aku mencari kedua teman kunyukku, memastikan keberadaan mereka. Aku temukan mereka sedang duduk-duduk di dekat masjid. Aku hampiri mereka, eh mereka malah menodongku :”Ada makanan gak?” “Ya gaklah, aku gak bisa bawakan mereka makanan, lagipula tak mungkin aku membawa mereka masuk rumah selarut ini. Aku menemani mereka duduk-duduk mengobrol. Kasihan mereka yang masih sekecil ini. Wajahnya sama, hanya berbeda bulu saja yang satu warna bulunya sama denganku sedangkan yang satunya lagi bulunya berwarna kehitaman. Mereka adalah saudara kembar yang disia-siakan majikannya. Sungguh kasihan. Maka itu aku selalu memastikan keberadaan dan makanan mereka. Jika di rumah ada makanan berlebih, pasti aku akan memanggil mereka sekedar untuk makan dan duduk-duduk di dalam rumah. Siang hari tentu saja, sebab mereka takkan menginap di rumah ini.


Kucing Yang Baik Hati
Si Merah sedang nenen

Kedua kunyuk temanku ini sangat manja denganku. Entah aku ini dianggapnya apanya. Aku merasa sangat geli ketika Si Merah menelusupkan kepalanya ke bagian tetekku seolah ingin nenen. Apa ya tidak tahu bahwa aku ini berkelamin jantan? Tapi kubiarkan saja kelakuannya itu. Aku merasa maklum, mungkin Si Merah tak pernah diteteki atau diberi ASI sama induknya. Tak berbeda dengan Si Merah, Si Hitam pun demikian. Barangkali dengan berbuat begitu mereka menemukan kenyamanan dan kehangatan yang belum pernah didapatnya selama ini. Yang jelas, kedua teman kunyukku ini suka bermanja-manja denganku.
Terkadang kepala mereka secara bersamaan disentuhkan ke kepalaku. Acap kali mereka berdua tertidur menempel bersentuhan dengan badanku.

Entah mengapa di rumah ini hanya ada mereka berdua, mbak Ocha dan Din Din. Tak ada laki-laki di rumah ini. Maka dari itu aku sangat senang berada di sini menemani mereka. Meski aku seekor kucing tapi aku kan laki-laki. Biar aku sebagai laki-laki yang ada di rumah ini turut menjaga mereka.


Kucing Yang Baik Hati
Uki bermain dengan Binggo

Kudengar mereka belum ada sebulan pindah ke rumah ini. Mereka meninggalkan tujuh kucing lokal di rumah lama. Apa karena itu ya mereka jadi perhatian dengan kami bertiga? Mungkin saja sebagai pengobat rasa bersalahnya. Mereka sungguh baik hati. Akupun juga kucing yang baik hati, itu kata mereka lho. Ketika Uki, batita,anak laki-laki tetangga yang suka main ke rumah ini menarik-narik buluku aku diam saja. Ketika Uki memukul-mukul badanku, akupun diam saja tak melawan seperti kucing kebanyakan. Aku serusaha menjadi kucing yang manis agar mbak Ocha dan Din Din selalu suka padaku.

Terkadang kulihat mbak Ocha bersedih dan diam melamun, entah apa yang dilamunkan. Lalu dia mengangkatku dan meletakkan aku di pangkuannya. Dipeluknya aku. Aku sungguh merasakan sesuatu yang hilang dari dirinya. Tapi entah apa. Ketika dia mendekapku ke dadanya, seolah aku merasakan apa yang mbak Ocha rasakan. Laki-laki, ya tentang laki-laki. Aku berharap mbak Ocha segera menemukan apa yang menjadi pelengkapnya.
Aku, Binggo berada di sini untuk kegembiraan mereka, mbak Ocha dan Din Din. 

Catatan: dipek dalam bahasa Jawa artinya diambil untuk dimiliki.

0 comments: