Rose is love

Mawar identik dengan cinta karena mawar bisa mengungkapkan betapa indahnya cinta, betapa romantisnya cinta.

Wanita

Wanita ibarat kelembutan yang rapuh, namun wanita memiliki kekuatan yang dasyat tak terkira.

Solo

Solo atau Surakarta merupakan kota eks karesidenan di Jawa Tengah. Solo adalah kota yang sangat berkembang tak kalah bersaing dengan kota-kota lain di Indonesia.

Embun Pagi

Embun menetes tiap pagi hari, menyentuh dedaunan, bunga-bunga, dan segala permukaan di bumi. Embun sungguh menyejukkan hati kita, membeningkan pikiran kita.

Kucing

Kucing adalah hewan yang paling menyenangkan. Tingkah polahnya yang lucu bisa menghalau galau dan menggantikannya dengan senyum bahkan tawa.

Tuesday, June 3, 2014

Sebuah Keputusan


Sebuah Keputusan

Asti menunduk lesu, tak berani mendongakkan wajah menatap bapaknya. Kedua tangannya memainkan ujung bajunya, melipat dan meluruskan, melipat dan meluruskan lagi. Sementara Pak Burhan menatap lekat-lekat ke arah Asti seolah ingin menerkamnya bulat-bulat.

“Kenapa tak bilang dari dulu-dulu kalau kamu punya anak gadis secantik ini?” Itu kalimat yang didengar Asti pertama kali dari Pak Burhan. Matanya tak sedetik pun beralih ke tempat lain, selain hanya sibuk memandangi Asti.
Pak Burhan memandang dari kepala sampai ke kaki seolah menelanjangi tubuh Asti.

Asti tidak tahu tentang isi pembicaraan antara bapaknya dengan Pak Burhan tadi sebelum dirinya dipanggil masuk ke ruang tamu.
Dulu Asti hanya mendengar nama Pak Burhan saja, itupun dulu sewaktu masih kecil. Melihat langsung ya baru kali ini, di rumahnya pula. Yang Asti tahu Pak Burhan telah menikah dan dikaruniai dua anak, laki-laki dan perempuan. Umur anak-anak Pak Burhan tak beda jauh dengan dirinya.

Dipandangi begitu Asti merasa jengah. Ingin rasanya Asti segera keluar dari ruangan yang menyesakkan ini, pergi ke Yogya menemui Aryo, kekasihnya.
Sementara bapaknya hanya tertawa-tawa mendengar penuturan kagum dari Pak Burhan. Betapa bangganya Pak Kasmo mendengar hamburan pujian orang lain terhadap anak perempuannaya. Apalagi pujian itu diucapkan oleh Pak Burhan, orang terkaya di desanya.

Pak Burhan berperawakan tinggi besar dengan kumis tebal bertengger di atas bibirnya. Kulitnya sawo matang, rambutnya cepak. Meskipun umurnya sudah genap enam puluh tahun, namun masih tampak gagah berwibawa.
Dulu Pak Burhan adalah lurah di desa Wisanggeni ini, maka pantas bila warga desa masih menghormatinya. Begitupun Pak Kasmo sangat menghormati Pak Burhan.

Sudah sepuluh tahun Pak Burhan meninggalkan desanya untuk mengadu nasib di kota propinsi, Semarang. Sebuah rumah makan ayam goreng terkenal telah berhasil dikelolanya. Oleh karena itulah maka pantas bila Pak Burhan jarang pulang kampung. Sampai-sampai tidak tahu bahwa Pak Kasmo sahabatnya mempunyai anak gadis yang cantik. Maklumlah Asti termasuk kembang desa di Desa Wisanggeni ini.

Asti nampak semakin mengkerut di kursinya, kentara sekali bahwa dia dilanda keresahan. Berkali-kali Asti memperbaiki letak duduknya yang tak nyaman.
Duduk dengan hanya menekuri lantai di sekitar kakinya membuatnya jengah. Asti bangkit berdiri hendak keluar ruangan, namun bapak mencegahnya: “Mau ke mana kamu? Temani dulu Pak Burhan. Beliau kan ingin mengenal kamu lebih dekat”
Asti kembali duduk di kursi kayu, sekarang kedua tangannya bertumpu pada pegangan kursi di kanan dan kiri, namun matanya tetap menunduk. Kini bapaknyalah yang keluar, dihembuskannya asap rokok kuat-kuat.

“Okelah Pak Kasmo, aku pergi dulu ada janji dengan teman bisnis” begitu pamit Pak Burhan.
“Oh iya iya Pak Kasmo monggo silahkan. Sugeng tindak. Jangan sungkan-sungkan untuk mampir kembali”
“Aku pergi dulu ya Asti, besok kita ketemu lagi”
Asti hanya mendengus tanpa menatap Pak Burhan.
Rasa tak suka itu kentara benar, namun Pak Burhan mengacuhkannya. Dia pikir dengan iming-iming kekayaan maka semua bereslah.

Sepulang Pak Burhan, bapak kembali menegaskan pada Asti : “Kamu mau kan menjadi istri Pak Burhan? Dia orang kaya di desa ini dan cukup terpandang” Asti tak menjawab, hanya menunduk lesu. “Kamu bisa minta apa saja darinya. Kamu pasti sejahtera hidupmu nak”
Kali ini Asti menjawab lemah :”Aku tak mau pak”
“Apa kamu bilang? Tidak mau? Kamu ini kudidik untuk menjadi anak yang baik, bukannya melawan kehendak orangtua seperti ini”
“Tapi pak .....”
“Kamu bilang bahwa kamu sudah punya pacar, begitu? Aryo itu hanya pegawai rendahan, mana bisa dia mencukupi kebutuhan hidupmu? “.
Tapi kami saling mencintai pak” Asti berusaha menjelaskan maksudnya.
“Ah omong kosong sama yang namanya cinta. Memangnya kalo kamu lapar kamu cukup dengan makan cinta? Seperti itu? Dengar ya Asti, semakin lama harga-harga semakin mahal, itu namanya hidup semakin susah saja dari hari ke hari. Ini ada orang kaya yang mampu memenuhi semua keinginanmu malah kamu tolak”.
Asti tetap tak bergeming. Pendiriannya masih tetap sama, menolak perjodohan bapaknya.
Pak Kasmo menghembuskan asap rokoknya kuat-kuat. Diminumnya kopi yang tak lagi panas.

Di luar rumah, ibunya tergopoh-gopoh pulang dari pasar. Segera diletakkannya keranjang belanjaannya, diambilnya bahan-bahan masakan untuk hari ini. Masaknya harus cepat karena hari sudah siang. Cucian terlalu banyak tadi, sehingga ke pasarnya agak siang.
“Asti sini bantu ibu memasak”, ibunya memanggil. Tak seperti biasanya, Asti kali ini nampak lesu tak bersemangat. Ibunya tak begitu hirau tentang hal ini. Yang terpenting masakan hari ini harus segera siap tersaji. Oseng kangkung dengan lauk tempe dan tahu goreng serta sambal terasi kesukaan suaminya. Tidak lupa krupuk bulat yang tadi dibelinya di pasar.

Asti mulai memetik kangkung tanpa kata, kemudian mencucinya di dekat sumur. Setelah itu Asti masuk ke dapur yang letaknya dekat dengan sumur. Dapur yang terbuat dari anyaman bambu ini terpisah dari rumah induk. Dengan cekatan diambilnya tempe-tempe yang berbungkus daun pisang, kemudian dilepasnya bungkusan-bungkusan tersebut.

Sementara ibunya sibuk membuat bumbu untuk tempe dan tahu goreng. Ketika mulai menggoreng, Bu Kasmo mulai melihat tanda-tanda yang tak biasa dari anaknya. Di matanya, Asti nampak pucat dan hanya diam seribu bahasa. Namun demikian tangannya tetap cekatan menggoreng tempe dan tahu lauk makan siang mereka.
Bu Kasmo mulai berpikir, “Apakah ini disebabkan karena kedatangan Pak Burhan? Apakah Pak Burhan sudah datang? “ begitu pikirnya.
Hal ini hanya dipikirkan saja, tak berani dia bertanya pada anaknya takut Asti mengurungkan niat membantunya memasak.

Seperiuk besar nasi, sayur oseng kangkung, lauk tahu dan tempe, krupuk bulat serta sepiring pisang ambon dan minuman telah tersaji rapi di meja makan. Saatnya makan siang untuk keluarga Pak Kasmo. Pak Kasmo, istrinya, Asti dan Didit yang baru pulang sekolah telah duduk dan siap untuk bersantap siang, ketika ada tamu datang.

Seorang perempuan terlihat di pintu masuk dengan membawa sesuatu yang entah apa.
Kulo nuwun ..... Bu Kasmo!” teriak perempuan itu.
Buru-buru Bu Kasmo keluar menemui tamunya:”Eh Yu Darsi ada apa kok tumben?”
“Ini bu ada titipan dari Pak Burhan” jawab Yu Darsi sambil menyerahkan bawaannya. Langsung tercium bau harum ayam goreng.
Satu dos besar berisi seekor ayam goreng lengkap dengan sambal dan lalap beralih ke tangan Bu Kasmo.

Setelah Bu Kasmo berucap terima kasih dan Yu Darsi pulang, segera dibukanya dos itu. Bau harum ayam goreng semakin membangkitkan selera makan mereka.
“Hore menu kali ini ayam goreng ya bu. Ibu bikin dong yang kayak gini. Tiap hari makan kayak gini juga boleh” Didit nampak kegirangan sambil mengambil nasi yang lebih banyak dari biasanya.
“Huss uang dari mana kalo tiap hari harus makan ayam?”, ibunya mendengus.
“Kan sebentar lagi anak kita jadi orang kaya bu, kok ibu lupa sih?” Pak Kasmo menimpali.
Bu Kasmo serba salah, mau menjawab apa tak ada ide di kepalanya. Di satu sisi dia setuju dengan suaminya, namun di sisi lain dia juga mengerti perasaan anaknya.
Sementara Asti nampak semakin murung saja, tak bersemangat untuk makan kali ini meski lauknya adalah ayam goreng kesukaannya.


Mereka jarang makan ayam goreng, maklumlah Pak Kasmo hanyalah buruh serabutan. Dia bekerja di kebun jeruk milik tetangga desanya. Menyiangi rumput-rumput liar, memanen jeruk, memberi pupuk, menyemai benih adalah bagian dari tugasnya. Terkadang dia juga membantu orang yang sedang membangun atau memperbaiki rumah. Pokoknya segala pekerjaan yang menghasilkan akan dikerjakannya, karena Pak Kasmo terkenal ringan tangan suka membantu.
Sementara istrinya selain mengurusi rumah tangga juga sesekali membantunya saat memanen jeruk.

Malam menjelang udara semilir tertiup angin, dilihatnya ayah dan ibunya sedang berbicara di teras rumah. Baru saja Asti akan masuk ke kamarnya, ketika ayahnya memanggil:”Asti ke sini sebentar nak”. Asti melangkah gontai mendekati orangtuanya.
“Bagaimana sudah kamu pikirkan maksud baik Pak Burhan?” ayahnya membuka percakapan.
“Kan Asti sudah bilang tadi pak. Keputusan Asti tetap sama” jawab Asti.
Kekecewaan mewarnai wajah Pak Kasmo.
“Kamu harus tahu Asti, bahwa bapak pernah meminjam uang sepuluh juta dari Pak Burhan. Dan, bapak belum bisa mengembalikannya sampai saat ini. Bila kamu mau menikah dengan Pak Burhan, bukan hanya hutang saja yang dilunasi tetapi juga bapak akan diberi modal”, suata Pak Kasmo memelan.
Asti baru tahu duduk persoalannya. Dia mengerti tetapi hatinya telah tertambat pada Aryo semata.
 “Tapi Asti tidak bisa menerima Pak Burhan. Maafkan Asti pak, bu ....”
Tak ada keputusan yang bisa diambil oleh ayahnya. Ibunya pun tak turut urun rembug, hanya diam dalam kebingungan.

Malam kian larut, Asti sulit memejamkan mata. Teringat pada janji manis Aryo, membuat keputusannya bulat untuk meninggalkan desanya dan pergi menyusul Aryo ke Yogyakarta. Asti berniat mencari pekerjaan di sana.
Sudah saatnya dia bisa menghasilkan uang sendiri, toh sebagai lulusan SMK jurusan busana dia memiliki keahlian yang mumpuni. Namun di sisi lain Asti juga bingung ketika harus meninggalkan kedua orangtuanya dan adiknya. Mereka telah terbiasa hidup bersama. Tapi untuk maju bukankah dibutuhkan pengorbanan. Toh semua ini dilakukan demi mereka juga.

Asti berjanji akan membantu keuangan orangtuanya bila sduah berpenghasilan nanti. Keputusan bulat telah diambilnya tadi malam. Asti bangun pagi-pagi benar sebelum semua penghuni rumah bangun. Diambilnya travelling bag yang terbuat dari kain batik perca yang disambung-sambung. Dimasukkannya beberapa pakaian dan segala perlengkapan pribadi lainnya. Semua sudah siap, kini saatnya mandi.

Pikirannya terus berputar, bagaimana dia akan tinggal di Yogya nanti. Ingatannya langsung mengarah pada seorang temannya yang sudah terlebih dulu diterima kerja di Yogya. Ya, dia akan menghubungi Nani, temannya itu. Barangkali Nani bisa menunjukkan peluang kerja untuknya.

Asti tidak mempunyai handphone, makanya dia tidak bisa memberitahu Aryo saat ini. Tetapi soal alamat kos dan tempat kerjanya Asti sudah mencatatnya. Ibunya yang baru saja bangun terlihat bingung menatap anaknya. “Mau ke mana As sudah rapi begitu?”
Bukannya menjawab pertanyaan, tapi Asti malah menghambur ke pelukan ibunya sambil berbisik:”Asti akan ke Yogya bu menyusul Mas Aryo dan cari pekerjaan di sana ..... “
“Apa bapakmu sudah tahu?” tanya ibunya pelan juga.
“Belum bu” sahut Asti.

Bersamaan dengan itu bapak dan Didit bangun juga dan terheran-heran melihat ibu dan anak berpelukan sambil menangis. ‘Ada apa?” ayah dan Didit bertanya berbarengan.
“Ini Asti mau ke Yogya katanya.......” kalimat ibu menggantung, mau diteruskan tapi tidak jadi.
Asti langsung bersujud di kaki ayahnya sambil berkata mengiba :”Pak Asti minta maaf, Asti tidak bisa menikah dengan Pak Burhan apalagi menjadi istri kedua. Pak, Asti minta maaf. Maafkan Asti ya pak .....”

Pak Kasmo tidak bisa berkata apa-apa. Keputusan anaknya telah diambil. Bukankah seorang ayah hanya bisa tut wuri handayani? Apapun kemauan anak asal itu baik, orangtua sebaiknya mendorong dan memotivasi dari belakang. Itu yang kini akan dilakukan Pak Kasmo. Memaksa anak adalah tindakan yang kurang baik, apalagi bila itu hanya untuk kepentingan orangtua.

Setelah sarapan, ibu mengantar Asti sampai ke jalan desa. Distopnya angkuta desa yang akan menuju ke terminal di kota. Asti memeluk ibunya erat sambil menangis, demikian pula Bu Kasmo melakukan hal yang sama. Ini adalah perpisahan pertama yang mereka lakukan. Di dalam angkuta terlihat Asti melambai-lambaikan tangannya. Ibunya menunggu sampai angkuta belok ke kiri dan tak terlihat lagi, tertutup oleh rimbunnya pepohonan.

Di Yogya Asti segera menghubungi Nani temannya. Beruntunglah bahwa Nani masih berada di kos, belum berangkat kerja. Asti diperbolehkan beristirahat dan menunggu di kos sampai Nani pulang sore harinya. Nani segera mengirim pesan singkat ke Aryo. Nani adalah juga teman Aryo sedesa, jadi Nani memiliki nomor handphone Aryo. Aryo yang mengetahui Asti, kekasihnya berada di kotanya sangat girang.

Pagi sebelum berangkat kerja Aryo menyempatkan diri mampir ke kos Nani. Mereka berbincang sebentar baru kemudian Aryo dan Nani pergi bekerja. Ternyata di tempat Nani bekerja ada lowongan pekerjaan, sehingga Asti yang cerdas dapat diterima langsung di perusahaan tempat Nani bekerja. Dan, Asti pun tinggal bersebelahan dengan kos Nani. Mereka berangkat dan pulang kerja bersama-sama.

Aryo yang tadinya bekerja di perusahaan sablon keluar dari pekerjaannya dan memulai usaha sablon sendiri. Kini Aryo mengontrak sebuah rumah sederhana namun luas untuk usaha sablonnya. Aryo yang memang berbakat wirausaha, sangat jeli melihat pangsa pasar. Musim kampanye dan tahun ajaran baru lumayan mendongkrak penghasilannya.

Atas kebaikan hati Aryo, Asti mendapat pinjaman lunak dari bank untuk melunasi hutang orangtua Asti ke Pak Burhan. Pak Kasmo terharu dan merasa sangat bersalah telah bermaksud menjodohkan anaknya dengan Pak Burhan yang sudah beristri.
Pak Kasmo juga terbuka mata hatinya terhadap Aryo, yang meskipun masih muda tetapi dapat diandalkan.

Setiap bulan Asti juga mengirim uang untuk ibunya di desa.

Hubungan Asti dengan Aryo semakin lengket saja. Nampaknya Aryolah jodoh yang diberikan Tuhan untuknya. Mereka bersama-sama menata dan merencanakan hidup berkeluarga. Asti memegang tangan Aryo, sementara Aryo memeluk Asti dengan mesra. Pasir di Pantai Parangtritis menjadi saksinya. Bulan tersenyum menyembul di antara awan gemawan.

Cerpen yang lain : Kucing Yang Baik Hati

Monday, June 2, 2014

Selamat Ulang Tahun Anakku

Selamat Ulang Tahun Anakku


25 Mei 1999 pukul dua dini hari tangismu memecah keheningan malam 
Segala rasa sakit karena melahirkanmu sirna sudah berganti bahagia 
Meski kau menangis namun dunia tersenyum menyambut kehadiranmu 
Kamu adalah pelengkap sempurnanya aku sebagai istri dan perempuan 

 Dan kini, lima belas tahun sudah berlalu sejak saat itu 
Kamu tumbuh menjadi gadis remaja yang pintar 
Memang kenyataan tak selalu seperti yang kau harap 
Bertahanlah dan kuatkan hatimu hadapi semua 

Gelap akan berganti terang, malam akan berganti siang 
Bersabarlah anakku bila kenyataan belum seindah anganmu 
Jalan kehidupan memang tak selalu mulus untuk dilalui
Tetaplah rajin belajar dan berdoa agar tercapai cita-citamu 

Ya Tuhan, 
Mohon dampingi anakku menuju kesuksesan hidup 
Mohon jauhkanlah anakku dari pengaruh buruk dan sesat 
Hanya kepada-Mu aku berharap demi kebaikan anakku 

Selamat ulang tahun anakku, ini yang ke-lima belas 
Semakin dewasalah kamu nak dalam berpikir dan bertindak 
Doaku selalu menyertaimu dalam langkah-langkah kecilmu 
Semoga tercapai segala yang kau dambakan dan inginkan 

Selamat ulang tahun buat anakku Adinda Kinanthi 
25 Mei 2014

Sunday, June 1, 2014

Fatamorgana

Fatamorgana

Masihkah kau berupa fatamorgana .......... 
yang melayang-layang di antara awan gemawan? 
Turunlah ke sini menginjakkan kaki di bumi ini 
Di depanku memelukku dan menciumku 

Masihkah kau janjikan itu untukku .......... 
Menemuiku di antara riak-riak kegelisahanku? 
Di sini aku menunggumu dalam kehampaan hati 
Penuhilah relung-relung hatiku ini oleh cintamu 

Betapa telah lama aku berharap hanya denganmu 
Memandangi wajahmu dan tidur di pangkuanmu 
Tidakkah kau dengar suara hatiku ini, kekasih? 
Tak kuasa lagi kutanggung segala rindu ini padamu

Perhatian Seorang Papa

Perhatian Seorang PAPA

Membaca status di facebook yang aku bagikan di bawah ini mengingatkanku pada hari ultah anakku yang jatuh pada tanggal 25 Mei 2014 tepat di Hari Minggu.  Itu merupakan ultahnya yang ke-lima belas, sudah remaja. Tak ada perayaan apapun. Papanya berada di Jakarta dan kami berdua tinggal di Solo. Meskipun kami sudah bercerai, namun di hari ultah anak seharusnya dia paling tidak mengucapkan selamat ulang tahun. Tapi sekedar ucapan pun tak ada, apalagi kedatangannya ataupun hadiahnya. Aku sungguh prihatin dengan hal ini, juga kasihan pada anakku. 

Sebagai seorang remaja puteri tentu perhatian dari ayahnya sangat dibutuhkan. Meski tak teucapkan tetapi aku paham bahwa dia membutuhkan figur seorang ayah. Dulu sewaktu masih kecil bila ada tamu pria, maka dia akan bertindak caper (cari perhatian). Maklumlah papanya bertugas di luar kota bahkan luar pulau, jadi kehadirannya di rumah sangat jarang. Namun sekarang, aku sangat menjaga diriku dari fitnah bila ada teman pria yang datang ke rumah. Untuk itu sebisa mungkin aku batasi kedatangan tamu pria.

Kembali ke masalah ultah tadi. Alasannya kenapa papanya tidak menelpon adalah karena HP anakku tidak bisa dihubungi, maklumlah kehabisan pulsa langganan. Dia, papanya tak sudi bila harus menelpon lewat HP-ku. Ya sudahlah, sebuah alasan yang tak masuk di akal sehat. 

Beruntunglah bahwa di hari ultahnya ada seorang yang baik hati mengucapkan bahkan menyanyikan "Happy Birthday" lewat HP ke anakku. Anakku sampai tertawa-tawa mendengar temanku menyanyikan lagu ultah. Temanku yang dipanggil oom oleh anakku  ini tinggal di Jakarta juga, cukup sering menelpon anakku. Aku dan anakku berucap terima kasih padanya.

Status facebook tersebut adalah sebagai berikut:

SAYA INGIN BELI WAKTU PAPA

Steven adalah seorang karyawan perusahaan yang cukup terkenal di Jakarta, memiliki dua putra. Putra pertama baru berusia 6 tahun bernama Leo dan putra kedua berusia dua tahun bernama Kristian. Seperti biasa jam 21.00 Steven sampai di rumahnya di salah satu sudut Jakarta, setelah seharian penuh bekerja di kantornya. Dalam keremangan lampu halaman rumahnya dia melihat Leo putra pertamanya di temani Bik Yati, pembantunya menyambut digerbang rumah.

“Kok belum tidur Leo?” sapa Steven sambil mencium anaknya. Biasanya Leo sudah tidur ketika Steven pulang dari kantor dan baru bangun menjelang Steven berangkat ke kantor keesokan harinya.
“Leo menunggu papa pulang, Leo mau tanya, gaji papa itu berapa sih Pa?” kata Leo sambil membuntuti papanya.
“Ada apa nih,kok tanya gaji papa segala?”
“Leo cuma pingin tahu aja kok pah?”
“Baiklah coba Leo hitung sendiri ya. Kerja papa sehari di gaji Rp.600.000,-, nah selama sebulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Nah berapa gaji papa sebulan?”
“Sehari papa kerja berapa jam Pa?”
“Sehari papa kerja 10 jam Leo, nah hitung sana, Papa mau melepas sepatu dulu.”

Leo berlari ke meja belajarnya dan sibuk mencoret-coret dalam kertanya menghitung gaji papanya. Sementara Steven melepas sepatu dan meminum teh hangat buatan istri tercintanya.
“Kalau begitu,satu bulan Papa di gaji Rp.15.000.000,-,yah Pa? Dan satu jam papa di gaji Rp.60.000,-.” Kata Leo setelah mencoret-coret sebentar dalam kertasnya sambil membuntuti Steven yang beranjak menuju kamarnya.

“Nah, pinter kamu Leo. Sekarang Leo cuci kaki lalu bobok.” Perintah Steven,namun Leo masih saja membuntuti Steven sambil terus memandang papanya yang berganti pakaian.
“Pah, boleh tidak Leo pinjam uang Papa Rp.5.000,- saja?” tanya Leo dengan hati-hati sambil menundukkan kepalanya.
“Sudahlah Leo,nggak usah macam-macam, untuk apa minta uang malam-malam begini. Kalau mau uang besok aja, Papa kan capek mau mandi dulu. Sekarang Leo tidur supaya besuk tidak terlambat ke sekolah!”
“Tapi Pah…”
“Leooo!!! Papa bilang tidur!” bentak Steven mengejutkan Leo.

Segera Leo beranjak menuju kamarnya. Setelah mandi Steven menengok kamar anaknya dan menjumpai Leo belum tidur. Leo sedang terisak pelan sambil memegangi sejumlah uang. Steven nampak menyesal dengan bentakannya. Dipegangnyalah kepala Leo pelan dan berkata: “Maafkan Papa ya nak. Papa sayang sekali pada Leo.” ditatapnya Leo anaknya dengan penuh kasih sambil ikut berbaring di sampingnya.

“Nah katakan pada Papa,untuk apa sih perlu uang malam-malam begini. Besok kan bisa, jangankan Rp.5.000,- lebih banyak dari itupun akan papa kasih.”
“Leo nggak minta uang Papa kok, Leo cuma mau pinjam. Nanti akan Leo kembalikan, kalu Leo udah menabung lagi dari uang jajan Leo.”
“Iya, tapi untuk apa Leo?” tanya Steven dengan lembut.
“Leo udah menunggu papa dari sore tadi, Leo nggak mau tidur sebelum ketemu Papa. Leo pingin ngajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang bahwa waktu papa berharga. Jadi Leo ingin beli waktu Papa.”

“Lalu.” tanya Steven penuh perhatian dan kelihatan belum mengerti.
“Tadi Leo membuka tabungan, ada Rp. 25.000,-. Tapi karena Papa bilang satu jam papa dibayar Rp.60.000,- maka untuk setengah jam berarti Rp. 30.000,-. Uang tabungan Leo kurang Rp. 5.000,-. Maka Leo ingin pinjam pada Papa. Leo ingin membeli waktu papa setengah jam saja, untuk menemani Leo main ular tangga. Leo rindu pada papa.” Kata Leo polos dengan masih menyisahkan isakannya yang tertahan.

Steven terdiam, dan kehilangan kata-kata. Bocah kecil itu dipeluknya erat-erat, bocah kecil yang menyadarkan bahwa cinta bukan hanya sekedar ungkapan kata-kata belaka, namun berupa ungkapan perhatian dan kepedulian.

Menurut cerita di atas si anak ingin ditemani main ular tangga tiga puluh menit saja karena selama ini ayahnya tidak ada waktu untuk anaknya. Untuk itu si anak ingin membeli waktu ayahnya yang tiga puluh menit itu. Ini tentang kehadiran.  

Bagaimana dengan masalah telpon? Apakah sebelum ultah anakku harus kirim pulsa dulu ke papanya agar saat anakku ultah papanya bisa menelpon? Lalu di mana letak perhatian seorang PAPA?


Inspirasi dari sini.

Cinta Sendirian


Cinta Sendirian


Ada apa ya dengan Si Tampubolon ini, sehingga Syahrini mengajaknya berduet? Mereka menyanyikan sebuah lagu cinta dengan gerak tubuh yang lumayan romantis. Teman duetnya kali ini adalah Marully Tampubolon, putra pengacara kondang Juan Felix Tampubolon. Hmm ....... 

Lagu yang mereka nyanyikan berjudul "Cinta Sendirian" menceritakan tentang seseorang yang sangat mengagumi sang pujaan hatinya, sampai tak merasa bosan memandangi fotonya tiada henti. Namun dia hanya memendam rasa saja karena tidak berani mengungkapkannya. 

Kurasa lagu ini setelah dinyanyikan berdua agak tak sesuai dengan liriknya. Nyatanya sang pujaan hati telah mengetahui isi hatinya, bukan? Tapi mengapa judulnya masih cinta sendirian, harusnya menjadi cinta berduaan, he he he .... ngarep ya?

Lirik lagu ini tak beda jauh dengan apa yang kurasakan terhadap seseorang. Seseorang itu kukenal lewat facebook, makanya sesuai benar liriknya tentang foto (profil) itu:

"tahukah kamu aku memiliki fotomu
ku pandang-pandangi, ku pandang-pandangi tak henti-henti"

Pernah kuungkapkan cerita ini di awal-awal aku ngeblog lewat persembahan sekeranjang anggur. 
Yang dimaksud "beranda rumahmu" adalah beranda facebook, sementara "rumahmu" adalah halaman profilnya. Dan "sekeranjang anggur" dimaksudkan sebagai pembicaraan yang menyenangkan namun bukan tentang cinta. 

Sekarang kita renungi lirik lagunya :


tahukah kamu aku mengagumimu
dengan sepenuh hati, hati yang tak bernyali
tahukah kamu aku memiliki fotomu
ku pandang-pandangi, ku pandang-pandangi tak henti-henti


bila saja engkau tahu betapa besar rasaku
rasa cintaku padamu di kejauhan hatimu


inikah namanya cinta sendirian yang kurasakan
tiada keberanian menyatakan aku cinta
hatiku yang malang teruslah bertahan jangan kau hilang
buktikan cintamu teramat dalam meski harus cinta sendirian

tahukah kamu aku memiliki fotomu
ku pandang-pandangi, ku pandang-pandangi tak henti-henti


bila saja engkau tahu betapa besar rasaku
rasa cintaku padamu di kejauhan hatimu


inikah namanya cinta sendirian yang ku rasakan
tiada keberanian menyatakan aku cinta
hatiku yang malang teruslah bertahan jangan kau hilang
buktikan cintamu teramat dalam meski harus cinta sendirian


tiada pernah ku ingin di keadaan ini
melihatmu di pelukan hati yang lain
namun apa daya bibirku tak bisa suarakan hati ini 


inikah namanya cinta sendirian yang ku rasakan
tiada keberanian menyatakan aku cinta
hatiku yang malang teruslah bertahan jangan kau hilang
buktikan cintamu teramat dalam meski harus
meski harus aaah cinta sendirian


Sementara untuk menikmati videonya dapat dilihat di sini.