Friday, November 7, 2014

Aku dan Para Pria

Aku dan Para Pria

Ini ceritanya tentang para pria yang coba mendekatiku dalam seminggu terakhir ini. 

Satu 

Suatu hari aku bermaksud mengunjungi seorang teman maya yang sedang mondok di rumah sakit di kotaku, sementara dia berasal dari kota lain. Sebelumnya aku bertanya :”Pengin dibawain apa?” Eh dia minta dibawain gado-gado tanpa bumbu sambal dan mayonaise. 
Pagi-pagi aku cari gado-gado dulu sampai agak jauh dari rumah. Masih pagi jadi belum banyak warung makan yang sudah siap gado-gadonya. 
Akhirnya aku dapatkan juga warung yang jual gado-gado dan sudah siap saji. Aku membeli dua bungkus gado-gado tanpa bumbu sambal, kemudian mampir ke sebuah mini market untuk membeli sebotol besar mayonaise, adanya ukuran yang segiitu. 

Sesampai rumah sakit aku mesti menunggu sampai jam bezuk. Sebenarnya aku udah diberitahu teman tentang jam bezuknya, tapi temanku ini ngeyel katanya aku boleh masuk dengan mengaku sebagai keluarganya. 
Sampai di portal dekat ruangannya ternyata ada satpam yang menanyaiku dan memintaku menunjukkan kartu, tentu saja aku tidak membawa kartu yang dimaksud. Aku menunggu sebentar, baru kemudian satpam tersebut mempersilahkan aku masuk. 

Temanku ternyata baru saja pindah ruangan ke ruangan vip. Ruangan ber-ac dan tv serta kamar mandi, juga dilengkapi sofa itu kumasuki. Baru kali ini lho aku dan dia ketemu, maklumlah dia teman di dumay. Rencananya aku akan bezuk bareng temen, tapi dia maunya aku datang sendirian. Ya sudah. Aku menyerahkan pesanannya, dia senang menerima kedatanganku. Eit eit sakit kok gitu sih? Tangannya itu lho. Piye to iki? Ya aku menolak secara halus. 

Dia bilang keluarganya tidak ada yang menengok., bahkan dia datang sendirian ke rumah sakit itu. Ada apa ya? Mungkin juga karena sudah biasa seperti itu, ada kesibukan atau ada masalah. Tak pentinglah bicara soal itu. 

Beberapa hari setelah dia pulang, dia sms ngajak ketemuan karena dia mesti kontrol ke rumah sakit itu. Awalnya aku menyanggupi tapi pada akhirnya aku menolak. Dia kan mau ngajak bercinta, jadi aku tidak maulah. Aku bukan janda gatel, kalo gatel ya digaruk sendiri he he he becanda. 

Bagaimana pun aku mesti memberi contoh yang baik buat anak gadisku. Aku tidak boleh sembarangan apalagi bercinta dengan sembarang pria. Enaknya Cuma sebentar tapi bisa-bisa akibatnya berkepanjangan. Iya kalo enak, kalo tidak enak dan ada akibatnya? Berabe. Jadi mending gak usah macam-macamlah. 


Dua 

Temenku yang biasa benerin komputer/laptop memang sudah biasa mampir ke rumah sekedar ngopi. Dia kerja sebagai marketing property jadi waktu untuk keluar kantor tentunya fleksibel. Kemarin dia ke rumah langsung masuk aja dan langsung ke kamar melihatku sedang tidur dengan daster yang tersingkap. Aduh! Barangkali saja dia sudah lama melihatku begitu sebelum kemudian memanggilku.
Katanya aku seksi memakai daster itu.Ya iyalah dia melihat pahaku. 

Aku memang terbiasa membuka pintu depan dan samping meskipun aku sedang tidur. Rasanya kok sumpek kalo ada pintu yang tertutup. 
Aku percaya tak akan pencuri yang masuk. Tapi ... ya begitulah, bukan pencuri barang kok. 


Tiga 

Tadi ada tetangga yang bilang kalo familinya mau nikahin aku, anaknya pun sudah setuju. Yang ini bukan tetanggaku dulu itu yang pernah aku ceritakan.Tapi katanya aku harus mau pindah agama. Jelas aku tidak mau pindah agama. Aku kembali ke agamaku saja ada pengorbananku secara materi kok. Apalagi dia hanya mampu mengontrakkan rumah untukku, padahal aku penginnya bisa kembali memiliki rumah sendiri. Bahkan cita-citaku adalah bisnis di bidang property dengan cara membeli dan menjual kembali rumah tersebut, begitu seterusnya. 

0 comments: