Rose is love

Mawar identik dengan cinta karena mawar bisa mengungkapkan betapa indahnya cinta, betapa romantisnya cinta.

Wanita

Wanita ibarat kelembutan yang rapuh, namun wanita memiliki kekuatan yang dasyat tak terkira.

Solo

Solo atau Surakarta merupakan kota eks karesidenan di Jawa Tengah. Solo adalah kota yang sangat berkembang tak kalah bersaing dengan kota-kota lain di Indonesia.

Embun Pagi

Embun menetes tiap pagi hari, menyentuh dedaunan, bunga-bunga, dan segala permukaan di bumi. Embun sungguh menyejukkan hati kita, membeningkan pikiran kita.

Kucing

Kucing adalah hewan yang paling menyenangkan. Tingkah polahnya yang lucu bisa menghalau galau dan menggantikannya dengan senyum bahkan tawa.

Showing posts sorted by date for query kucing yang baik hati. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query kucing yang baik hati. Sort by relevance Show all posts

Sunday, November 9, 2014

Aku Kangen Binggo

Aku Kangen Binggo

Binggo adalah seekor kucing blasteran liar yang suka main ke rumah bersama kedua temannya. Tapi sekarang Binggo tak ada lagi, kemungkinan besar sudah dibuang tetanggaku. Memang benar bahwa Binggo bukanlah kucingku tapi aku sudah terlanjur sayang padanya. 

Sudah dua kali aku membelikannya sekantung besar makanan kucing, Wiskas dan makanan kucing kiloan yang aku beli di petshop. Dia suka sekali memakannya. Hanya Binggo saja yang kuberi makanan itu, sementara kedua kucing lainnya hanya aku kasih icip-icip aja. Kini Binggo telah raib. 

Sudah dua kali pula aku menyelamatkan Binggo yang tercebur sumur. 
Pertama, aku hanya membantu mengangkatnya dari ember timba yang baru saja dinaikkan dari dalam sumur. 
Kedua, aku benar-benar menyelamatkannya sendirian, yang lain cuma nonton. Binggo terjatuh dari atap karena berkejar-kejaran dengan temannya atau musuhnya. Suara bedebum byur sangat mengagetkanku. Saking bingungnya, bukannya aku menengok sumur dekat rumah tapi aku malah lari ke belakang sumur itu dengan jalan memutar. Tentu saja tak ada yang jatuh di sumur belakang itu. Aku buru-buru balik ke rumah. Terlihat beberapa tetangga sudah berkumpul mengelilingi sumur dengan lampu yang terang banget. Ternyata Binggo yang terjatuh. Benar dugaanku. Aku sangat panik. Aku mengambil alih memegang timba. Aku ayun-ayunkan ember timba agar dekat dengan tubuhnya. Berkali-kali gagal karena Binggo berubah-ubah posisi, mungkin sama paniknya denganku. Akhirnya Binggo berhasil memegang tali timba dengan kedua cakarnya yang mencengkeram. Syukurlah Binggo selamat. Segera aku handuki dan aku peluk. Binggo bukan jenis kucing yang manja, jadi dia tidak mau diperlakukan seperti itu. Binggo berlari masuk rumah. 

Oh Binggoku sayang. Kini tak ada Binggo lagi. Terkadang aku melihat ada kucing yang mirip Binggo, blasteran anggora juga. Bisa dipastikan itu saudara-saudaranya. Binggoku sayang, kucing yang baik hati kini telah pergi entah ke mana. 

Aku yakin sekali bahwa Binggo sengaja dibuang. Tak mengertikah mereka bahwa Binggo sangat berarti bagiku yang kesepian. Tidakkah mereka pernah mendengar bahwa Binggo sering aku “kudang-kudang” seperti ke anak kecil? Tidak punya perasaankah mereka sehingga tega berbuat seperti itu kepadaku, kepada Binggo dan kepada si hitam? Kalo membuang kenapa tidak keduanya sekaligus jadi Binggo dan si hitam bisa bersama meski di tempat yang jauh? Si hitam itu sangat lemah sangat tergantung pada Binggo, sering bersikap menyusu pada Binggo padahal Binggo kan kucing cowok. Binggo adal ah kucing paling baik hati yang pernah kutemui. Ditarik bulunya pun tidak marah, diinjak pun tidak marah. Aku kangen Binggo. 

Setiap pulang ke rumah, Binggo selalu berlari mendekat seolah minta oleh-oleh. Binggolah yang pertama kali aku cari bila pulang ke rumah. Kini Binggo tak ada lagi, entah di mana. Kuharap Binggo dan si hitam diberi makanan yang cukup, diberi perlindungan, diberi tempat tinggal yang layak dan semoga ada yang mengadopsi keduanya, meski terpisah. 

Pertama kali aku tinggal di rumah ini, kucing-kucing itu suka main ke rumah. Barangkali saja karena aku sangat familiar dengan kucing, jadi mereka merasa nyaman dan aman. Para tetangga beranggapan bahwa akulah yang memelihara mereka, padahal aku sekedar memberi mereka makan. 

Suatu pagi aku sangat kaget karena ada seorang tetangga yang bilang : “Mbak kucingnya itu lho berak di depan rumah”. Aku terkejut dan terpana, tak seucap kata pun yang keluar dari bibirku. Aku tak mau bersitegang dengan tetangga sendiri. Aku sangat heran baru kemarin aku datangi rumahnya menjenguk nya yang habis melahirkan dan tentu saja aku membawa bingkisan. Eh paginya dia kok seperti itu. Perasaanku mengatakan ada yang tak beres. Pada tetanggaku yang lain yang masih familinya, aku mengelak memelihara mereka, aku hanya memberi mereka makan. 

Aku mengerti bahwa kami tinggal di daerah kumuh yang sempit yang tidak memungkinkan untuk memelihara binatang. Maka dari itu aku meninggalkan kucing-kucingku di rumah yang lama. Terpaksa. 

Beberapa lama kemudian aku mendengar ada tetangga yang menawarkan ke tamu siapa yang mau mengambil kucing itu. Tetangga ini adalah bulik dari orang itu dan mengasuh bayinya di saat dia bekerja. Di lain waktu aku mendengar desas desus dari keluarga tersebut bahwa sebaiknya kucing-kucing itu dibuang saja. Namanya juga kucing jadi berak di tempat sembarangan. Sebenarnya kalo dibiasakan atau dikasih tahu, kucing juga bisa berak di tempat tertentu saja seperti kucing-kucingku di rumah yang lama. Kusadari Binggo hilang setelah lebaran. Pertama si hitam dulu yang hilang. Barangkali saja mereka mengira saat lebaranlah yang tepat untuk membuang kucing-kucing itu karena aku mudik. Nyatanya lebaran pun aku masih di rumah. Jadi entah kapan mereka dibuang. 

Barangkali sudah menjadi watak dasar manusia, yaitu EGOIS. Aku tahu bahwa dia yang habis 
melahirkan itu tidak mau direpotkan dengan hal lain yang dapat mengganggu kebahagiaannya. Lalu orang lainlah yang dirugikan, yang notabene adalah aku. Aku tahu bahwa dia MASIH punya suami, punya anak cewek dan anak cowok, sudah punya rumah yang sedang dibangun, suaminya diberi kepeercayaan boleh membawa mobil sedan dari kantor, keduanya pun bekerja. Lengkap sudah kebahagiaannya. Paling tidak itu yang terlihat. Coba bandingkan dengan aku ... hu hu hu ... Dia tak mau kebahagiaannya terganggu. Dia maunya orang lain mendukung kebahagiaannya, persetan dengan orang lain. Padahal Binggo adalah sebagian dari kebahagiaanku yang sedang kesepian. Jelas dia tak mau berpikir sejauh itu, pikirannya tak sampai. Ya sudahlah tak apa-apa. Aku pun juga tak menanyakan pada mereka tentang Binggo dan si hitam. 

Keinginanku suatu saat bila aku dapat menempati rumah sendiri yang lumayan besar, aku akan memelihara kucing-kucing Persia atau Anggora untuk dikembangbiakkan dan dijual.Adalah merupakan hobiku memelihara kucing. Aku adalah pecinta kucing sejati, kucing di jalan pun aku sapa. Semoga aku dapat mewujudkan keinginanku ini, hobi yang menghasilkan.

Tuesday, June 3, 2014

Sebuah Keputusan


Sebuah Keputusan

Asti menunduk lesu, tak berani mendongakkan wajah menatap bapaknya. Kedua tangannya memainkan ujung bajunya, melipat dan meluruskan, melipat dan meluruskan lagi. Sementara Pak Burhan menatap lekat-lekat ke arah Asti seolah ingin menerkamnya bulat-bulat.

“Kenapa tak bilang dari dulu-dulu kalau kamu punya anak gadis secantik ini?” Itu kalimat yang didengar Asti pertama kali dari Pak Burhan. Matanya tak sedetik pun beralih ke tempat lain, selain hanya sibuk memandangi Asti.
Pak Burhan memandang dari kepala sampai ke kaki seolah menelanjangi tubuh Asti.

Asti tidak tahu tentang isi pembicaraan antara bapaknya dengan Pak Burhan tadi sebelum dirinya dipanggil masuk ke ruang tamu.
Dulu Asti hanya mendengar nama Pak Burhan saja, itupun dulu sewaktu masih kecil. Melihat langsung ya baru kali ini, di rumahnya pula. Yang Asti tahu Pak Burhan telah menikah dan dikaruniai dua anak, laki-laki dan perempuan. Umur anak-anak Pak Burhan tak beda jauh dengan dirinya.

Dipandangi begitu Asti merasa jengah. Ingin rasanya Asti segera keluar dari ruangan yang menyesakkan ini, pergi ke Yogya menemui Aryo, kekasihnya.
Sementara bapaknya hanya tertawa-tawa mendengar penuturan kagum dari Pak Burhan. Betapa bangganya Pak Kasmo mendengar hamburan pujian orang lain terhadap anak perempuannaya. Apalagi pujian itu diucapkan oleh Pak Burhan, orang terkaya di desanya.

Pak Burhan berperawakan tinggi besar dengan kumis tebal bertengger di atas bibirnya. Kulitnya sawo matang, rambutnya cepak. Meskipun umurnya sudah genap enam puluh tahun, namun masih tampak gagah berwibawa.
Dulu Pak Burhan adalah lurah di desa Wisanggeni ini, maka pantas bila warga desa masih menghormatinya. Begitupun Pak Kasmo sangat menghormati Pak Burhan.

Sudah sepuluh tahun Pak Burhan meninggalkan desanya untuk mengadu nasib di kota propinsi, Semarang. Sebuah rumah makan ayam goreng terkenal telah berhasil dikelolanya. Oleh karena itulah maka pantas bila Pak Burhan jarang pulang kampung. Sampai-sampai tidak tahu bahwa Pak Kasmo sahabatnya mempunyai anak gadis yang cantik. Maklumlah Asti termasuk kembang desa di Desa Wisanggeni ini.

Asti nampak semakin mengkerut di kursinya, kentara sekali bahwa dia dilanda keresahan. Berkali-kali Asti memperbaiki letak duduknya yang tak nyaman.
Duduk dengan hanya menekuri lantai di sekitar kakinya membuatnya jengah. Asti bangkit berdiri hendak keluar ruangan, namun bapak mencegahnya: “Mau ke mana kamu? Temani dulu Pak Burhan. Beliau kan ingin mengenal kamu lebih dekat”
Asti kembali duduk di kursi kayu, sekarang kedua tangannya bertumpu pada pegangan kursi di kanan dan kiri, namun matanya tetap menunduk. Kini bapaknyalah yang keluar, dihembuskannya asap rokok kuat-kuat.

“Okelah Pak Kasmo, aku pergi dulu ada janji dengan teman bisnis” begitu pamit Pak Burhan.
“Oh iya iya Pak Kasmo monggo silahkan. Sugeng tindak. Jangan sungkan-sungkan untuk mampir kembali”
“Aku pergi dulu ya Asti, besok kita ketemu lagi”
Asti hanya mendengus tanpa menatap Pak Burhan.
Rasa tak suka itu kentara benar, namun Pak Burhan mengacuhkannya. Dia pikir dengan iming-iming kekayaan maka semua bereslah.

Sepulang Pak Burhan, bapak kembali menegaskan pada Asti : “Kamu mau kan menjadi istri Pak Burhan? Dia orang kaya di desa ini dan cukup terpandang” Asti tak menjawab, hanya menunduk lesu. “Kamu bisa minta apa saja darinya. Kamu pasti sejahtera hidupmu nak”
Kali ini Asti menjawab lemah :”Aku tak mau pak”
“Apa kamu bilang? Tidak mau? Kamu ini kudidik untuk menjadi anak yang baik, bukannya melawan kehendak orangtua seperti ini”
“Tapi pak .....”
“Kamu bilang bahwa kamu sudah punya pacar, begitu? Aryo itu hanya pegawai rendahan, mana bisa dia mencukupi kebutuhan hidupmu? “.
Tapi kami saling mencintai pak” Asti berusaha menjelaskan maksudnya.
“Ah omong kosong sama yang namanya cinta. Memangnya kalo kamu lapar kamu cukup dengan makan cinta? Seperti itu? Dengar ya Asti, semakin lama harga-harga semakin mahal, itu namanya hidup semakin susah saja dari hari ke hari. Ini ada orang kaya yang mampu memenuhi semua keinginanmu malah kamu tolak”.
Asti tetap tak bergeming. Pendiriannya masih tetap sama, menolak perjodohan bapaknya.
Pak Kasmo menghembuskan asap rokoknya kuat-kuat. Diminumnya kopi yang tak lagi panas.

Di luar rumah, ibunya tergopoh-gopoh pulang dari pasar. Segera diletakkannya keranjang belanjaannya, diambilnya bahan-bahan masakan untuk hari ini. Masaknya harus cepat karena hari sudah siang. Cucian terlalu banyak tadi, sehingga ke pasarnya agak siang.
“Asti sini bantu ibu memasak”, ibunya memanggil. Tak seperti biasanya, Asti kali ini nampak lesu tak bersemangat. Ibunya tak begitu hirau tentang hal ini. Yang terpenting masakan hari ini harus segera siap tersaji. Oseng kangkung dengan lauk tempe dan tahu goreng serta sambal terasi kesukaan suaminya. Tidak lupa krupuk bulat yang tadi dibelinya di pasar.

Asti mulai memetik kangkung tanpa kata, kemudian mencucinya di dekat sumur. Setelah itu Asti masuk ke dapur yang letaknya dekat dengan sumur. Dapur yang terbuat dari anyaman bambu ini terpisah dari rumah induk. Dengan cekatan diambilnya tempe-tempe yang berbungkus daun pisang, kemudian dilepasnya bungkusan-bungkusan tersebut.

Sementara ibunya sibuk membuat bumbu untuk tempe dan tahu goreng. Ketika mulai menggoreng, Bu Kasmo mulai melihat tanda-tanda yang tak biasa dari anaknya. Di matanya, Asti nampak pucat dan hanya diam seribu bahasa. Namun demikian tangannya tetap cekatan menggoreng tempe dan tahu lauk makan siang mereka.
Bu Kasmo mulai berpikir, “Apakah ini disebabkan karena kedatangan Pak Burhan? Apakah Pak Burhan sudah datang? “ begitu pikirnya.
Hal ini hanya dipikirkan saja, tak berani dia bertanya pada anaknya takut Asti mengurungkan niat membantunya memasak.

Seperiuk besar nasi, sayur oseng kangkung, lauk tahu dan tempe, krupuk bulat serta sepiring pisang ambon dan minuman telah tersaji rapi di meja makan. Saatnya makan siang untuk keluarga Pak Kasmo. Pak Kasmo, istrinya, Asti dan Didit yang baru pulang sekolah telah duduk dan siap untuk bersantap siang, ketika ada tamu datang.

Seorang perempuan terlihat di pintu masuk dengan membawa sesuatu yang entah apa.
Kulo nuwun ..... Bu Kasmo!” teriak perempuan itu.
Buru-buru Bu Kasmo keluar menemui tamunya:”Eh Yu Darsi ada apa kok tumben?”
“Ini bu ada titipan dari Pak Burhan” jawab Yu Darsi sambil menyerahkan bawaannya. Langsung tercium bau harum ayam goreng.
Satu dos besar berisi seekor ayam goreng lengkap dengan sambal dan lalap beralih ke tangan Bu Kasmo.

Setelah Bu Kasmo berucap terima kasih dan Yu Darsi pulang, segera dibukanya dos itu. Bau harum ayam goreng semakin membangkitkan selera makan mereka.
“Hore menu kali ini ayam goreng ya bu. Ibu bikin dong yang kayak gini. Tiap hari makan kayak gini juga boleh” Didit nampak kegirangan sambil mengambil nasi yang lebih banyak dari biasanya.
“Huss uang dari mana kalo tiap hari harus makan ayam?”, ibunya mendengus.
“Kan sebentar lagi anak kita jadi orang kaya bu, kok ibu lupa sih?” Pak Kasmo menimpali.
Bu Kasmo serba salah, mau menjawab apa tak ada ide di kepalanya. Di satu sisi dia setuju dengan suaminya, namun di sisi lain dia juga mengerti perasaan anaknya.
Sementara Asti nampak semakin murung saja, tak bersemangat untuk makan kali ini meski lauknya adalah ayam goreng kesukaannya.


Mereka jarang makan ayam goreng, maklumlah Pak Kasmo hanyalah buruh serabutan. Dia bekerja di kebun jeruk milik tetangga desanya. Menyiangi rumput-rumput liar, memanen jeruk, memberi pupuk, menyemai benih adalah bagian dari tugasnya. Terkadang dia juga membantu orang yang sedang membangun atau memperbaiki rumah. Pokoknya segala pekerjaan yang menghasilkan akan dikerjakannya, karena Pak Kasmo terkenal ringan tangan suka membantu.
Sementara istrinya selain mengurusi rumah tangga juga sesekali membantunya saat memanen jeruk.

Malam menjelang udara semilir tertiup angin, dilihatnya ayah dan ibunya sedang berbicara di teras rumah. Baru saja Asti akan masuk ke kamarnya, ketika ayahnya memanggil:”Asti ke sini sebentar nak”. Asti melangkah gontai mendekati orangtuanya.
“Bagaimana sudah kamu pikirkan maksud baik Pak Burhan?” ayahnya membuka percakapan.
“Kan Asti sudah bilang tadi pak. Keputusan Asti tetap sama” jawab Asti.
Kekecewaan mewarnai wajah Pak Kasmo.
“Kamu harus tahu Asti, bahwa bapak pernah meminjam uang sepuluh juta dari Pak Burhan. Dan, bapak belum bisa mengembalikannya sampai saat ini. Bila kamu mau menikah dengan Pak Burhan, bukan hanya hutang saja yang dilunasi tetapi juga bapak akan diberi modal”, suata Pak Kasmo memelan.
Asti baru tahu duduk persoalannya. Dia mengerti tetapi hatinya telah tertambat pada Aryo semata.
 “Tapi Asti tidak bisa menerima Pak Burhan. Maafkan Asti pak, bu ....”
Tak ada keputusan yang bisa diambil oleh ayahnya. Ibunya pun tak turut urun rembug, hanya diam dalam kebingungan.

Malam kian larut, Asti sulit memejamkan mata. Teringat pada janji manis Aryo, membuat keputusannya bulat untuk meninggalkan desanya dan pergi menyusul Aryo ke Yogyakarta. Asti berniat mencari pekerjaan di sana.
Sudah saatnya dia bisa menghasilkan uang sendiri, toh sebagai lulusan SMK jurusan busana dia memiliki keahlian yang mumpuni. Namun di sisi lain Asti juga bingung ketika harus meninggalkan kedua orangtuanya dan adiknya. Mereka telah terbiasa hidup bersama. Tapi untuk maju bukankah dibutuhkan pengorbanan. Toh semua ini dilakukan demi mereka juga.

Asti berjanji akan membantu keuangan orangtuanya bila sduah berpenghasilan nanti. Keputusan bulat telah diambilnya tadi malam. Asti bangun pagi-pagi benar sebelum semua penghuni rumah bangun. Diambilnya travelling bag yang terbuat dari kain batik perca yang disambung-sambung. Dimasukkannya beberapa pakaian dan segala perlengkapan pribadi lainnya. Semua sudah siap, kini saatnya mandi.

Pikirannya terus berputar, bagaimana dia akan tinggal di Yogya nanti. Ingatannya langsung mengarah pada seorang temannya yang sudah terlebih dulu diterima kerja di Yogya. Ya, dia akan menghubungi Nani, temannya itu. Barangkali Nani bisa menunjukkan peluang kerja untuknya.

Asti tidak mempunyai handphone, makanya dia tidak bisa memberitahu Aryo saat ini. Tetapi soal alamat kos dan tempat kerjanya Asti sudah mencatatnya. Ibunya yang baru saja bangun terlihat bingung menatap anaknya. “Mau ke mana As sudah rapi begitu?”
Bukannya menjawab pertanyaan, tapi Asti malah menghambur ke pelukan ibunya sambil berbisik:”Asti akan ke Yogya bu menyusul Mas Aryo dan cari pekerjaan di sana ..... “
“Apa bapakmu sudah tahu?” tanya ibunya pelan juga.
“Belum bu” sahut Asti.

Bersamaan dengan itu bapak dan Didit bangun juga dan terheran-heran melihat ibu dan anak berpelukan sambil menangis. ‘Ada apa?” ayah dan Didit bertanya berbarengan.
“Ini Asti mau ke Yogya katanya.......” kalimat ibu menggantung, mau diteruskan tapi tidak jadi.
Asti langsung bersujud di kaki ayahnya sambil berkata mengiba :”Pak Asti minta maaf, Asti tidak bisa menikah dengan Pak Burhan apalagi menjadi istri kedua. Pak, Asti minta maaf. Maafkan Asti ya pak .....”

Pak Kasmo tidak bisa berkata apa-apa. Keputusan anaknya telah diambil. Bukankah seorang ayah hanya bisa tut wuri handayani? Apapun kemauan anak asal itu baik, orangtua sebaiknya mendorong dan memotivasi dari belakang. Itu yang kini akan dilakukan Pak Kasmo. Memaksa anak adalah tindakan yang kurang baik, apalagi bila itu hanya untuk kepentingan orangtua.

Setelah sarapan, ibu mengantar Asti sampai ke jalan desa. Distopnya angkuta desa yang akan menuju ke terminal di kota. Asti memeluk ibunya erat sambil menangis, demikian pula Bu Kasmo melakukan hal yang sama. Ini adalah perpisahan pertama yang mereka lakukan. Di dalam angkuta terlihat Asti melambai-lambaikan tangannya. Ibunya menunggu sampai angkuta belok ke kiri dan tak terlihat lagi, tertutup oleh rimbunnya pepohonan.

Di Yogya Asti segera menghubungi Nani temannya. Beruntunglah bahwa Nani masih berada di kos, belum berangkat kerja. Asti diperbolehkan beristirahat dan menunggu di kos sampai Nani pulang sore harinya. Nani segera mengirim pesan singkat ke Aryo. Nani adalah juga teman Aryo sedesa, jadi Nani memiliki nomor handphone Aryo. Aryo yang mengetahui Asti, kekasihnya berada di kotanya sangat girang.

Pagi sebelum berangkat kerja Aryo menyempatkan diri mampir ke kos Nani. Mereka berbincang sebentar baru kemudian Aryo dan Nani pergi bekerja. Ternyata di tempat Nani bekerja ada lowongan pekerjaan, sehingga Asti yang cerdas dapat diterima langsung di perusahaan tempat Nani bekerja. Dan, Asti pun tinggal bersebelahan dengan kos Nani. Mereka berangkat dan pulang kerja bersama-sama.

Aryo yang tadinya bekerja di perusahaan sablon keluar dari pekerjaannya dan memulai usaha sablon sendiri. Kini Aryo mengontrak sebuah rumah sederhana namun luas untuk usaha sablonnya. Aryo yang memang berbakat wirausaha, sangat jeli melihat pangsa pasar. Musim kampanye dan tahun ajaran baru lumayan mendongkrak penghasilannya.

Atas kebaikan hati Aryo, Asti mendapat pinjaman lunak dari bank untuk melunasi hutang orangtua Asti ke Pak Burhan. Pak Kasmo terharu dan merasa sangat bersalah telah bermaksud menjodohkan anaknya dengan Pak Burhan yang sudah beristri.
Pak Kasmo juga terbuka mata hatinya terhadap Aryo, yang meskipun masih muda tetapi dapat diandalkan.

Setiap bulan Asti juga mengirim uang untuk ibunya di desa.

Hubungan Asti dengan Aryo semakin lengket saja. Nampaknya Aryolah jodoh yang diberikan Tuhan untuknya. Mereka bersama-sama menata dan merencanakan hidup berkeluarga. Asti memegang tangan Aryo, sementara Aryo memeluk Asti dengan mesra. Pasir di Pantai Parangtritis menjadi saksinya. Bulan tersenyum menyembul di antara awan gemawan.

Cerpen yang lain : Kucing Yang Baik Hati

Friday, February 21, 2014

Kucing Yang Baik Hati

Kucing Yang Baik Hati
Binggo yang ganteng

Dia suka mendekapku, menaruh kepalaku di belahan dadanya. Bunyi detak jantungnya terdengar beraturan. Terasa hangat, itu pasti. Dia suka mengajakku berbicara, tapi terkadang diam saja. Tak tahukah bahwa aku ini adalah laki-laki? Meskipun aku hanyalah seekor kucing, tapi aku sangat senang berdekatan dengannya.

Aku menyebutnya mbak Ocha, sebagaimana orang-orang memanggilnya demikian. Dia adalah majikanku, kini. Dia merawatku dengan baik, memberiku makan secara teratur, nasi ikan besekan. Huh! Lagi-lagi aku diberinya nasi bandeng atau nasi tongkol besekan makanan khas kucing kampung. Aku kan kucing blasteran anggora, masak makanannya begitu-begitu saja. Mana makanan kalengnya mbak Ocha? Tapi seharusnya aku bersyukur dengan segala perlakuannya padaku. Aku juga dibolehkan tidur di kasur di bagian kakinya. Kasur bertumpuk dua yang sangat empuk, tak seperti dulu ketika aku masih tinggal di rumahnya Bu Salim yang hanya membolehkan aku tidur di keset lusuh. Soal makanan ya sama saja di sana atau di sini, nasi bandeng khas makanan kucing kampung. Di tempat Bu Salim aku tak pernah disayang-sayang seperti di rumah ini. Bu Salim hanya memberi makan saja, itu saja.

Belum ada sebulan aku tinggal bersama mbak Ocha yang baik hati. Semua bermula dari suatu kejadian. Waktu itu aku bermaksud naik ke atap rumah orang, aku melewati sebuah bangunan berbentuk bulat agak tinggi. Aku tak tahu bahwa ada lubang besar di tengah-tengah bangunan bulat itu, kakiku tak menapak sempurna hingga aku tergelincir dan masuk ke dalam lubang itu. Byuuur!!! Awh! Aku tercebur pada air yang sangat banyak dan dingin sekali. Aku berteriak-teriak sekuat tenagaku:” Ngeooooong!, ngeooong!, ngeoooong!” Kakiku mengepak-ngepak berenang mencoba mencapai tepain sumur, tapi betapa sulitnya.


Kucing Yang Baik Hati
Binggo melamun

Seorang ibu mendatangiku memancingku dengan ember sumur. Sesampai di tanah langsung ada seorang ibu lain yang mengambilku tanpa canggung, belakangan aku tahu namanya adalah mbak Ocha. Dia membawaku ke rumahnya, menaruhku di atas mesin cuci kemudian dengan sigap mengeringkanku dengan kain-kain perca sampai semua air menetes. Kemudian mbak Ocha mengambil handuk dan membelitkan ke tubuhku. Dia membawaku berjalan dan duduk di kursi panjang terbuat dari batu bata yang disemen. Badanku masih saja menggigil menahan dingin. Dipeluknya aku erat sambil sesekali mengeringkanku lagi dan lagi.

Seorang anak kecil perempuan mengambilkanku beberapa potong ikan bandeng goreng. Aku memakannya sedikit. Rasanya tak ada nafsu makan, aku masih trauma tercebur sumur tadi. Beberapa orang turut duduk-duduk di situ menyoal aku. Aku memang suka bermain di daerah ini, tapi baru kali ini saja aku kena nasib sial tercebur sumur.

Lalu mbak Ocha masuk ke rumah, sementara aku ditinggal sendirian di situ. “Kenapa sih aku gak dibawa masuk? Aku kedinginan di sini”.
Kedua kucing sahabatku mendatangiku, Si Merah bertanya:”Hey kamu kenapa basah kuyup begitu?” “Habis nyolong ketahuan ya?” Si Hitam menimpali. “Huh dasar ya, aku lagi kena musibah nih” jawabku agak malas. “Musibah apa?” tanya mereka. Kujawab: “Tercebur sumur” Kedua temenku terkekeh-kekeh:” Hua ha ha ha ha ....” Aku jengkel tapi lebih baik diam. Tapi meskipun begitu, aku sangat sayang pada kedua temenku ini. Dua kucing kakak beradik yang dibuang begitu saja oleh majikannya.


Kucing Yang Baik Hati
Mencari kehangatan pada Binggo

Aku menemukan mereka yang masih kecil waktu itu sedang mengais-ngais makanan sisa di tempat sampah depan mesjid. Mereka yang masih kecil-kecil sudah dipisahkan dengan induknya di saat mereka butuh kasih sayang dan tentu saja masih butuh ASI. Tega nian.

Aku melihat mbak Ocha membuka pintu depan, aku turun dari bangku menuju pintu. Mbak Ocha memanggilku: ”Pus pus ayo masuk” sambil tangannya meraih, mengangkatku dan menggendongku. Hangat rasanya berada di pelukannya yang nyaman. Dia memberiku makanan remahan roti.

Rumah ini tak begitu besar tapi penuh dengan barang-barang yang tertata rapi. Selain mbak Ocha, ada seorang remaja putri yang tadi aku lihat di depan. Rupanya dia tinggal di sini juga. Kemungkinan itu adalah anaknya mbak Ocha. Iya benar, bisa dilihat dari cara mbak Ocha menyapanya:” Din Din lihat kucing ini, ini kucing blasteran lho. Bulunya panjang-panjang tapi hidungnya mancung gak kayak kucing anggora yang pesek. Lucu banget”. “Kucing ini dipek aja ya ma buat kita”, Din Din membelai bulu-buluku yang panjang dan berwarna pirang. Senang sekali nampaknya dia dengan kedatanganku. “Ma kucingnya dikasih nama apa ya ...... ehm ... gimana kalo Binggo aja?” Din Din bertanya pada mamanya. Mamanya menyahut:”Binggo artinya apa tuh?” Din Din bilang:” Binggo artinya blasteran indo dan gorila ha ha ha .....”. ‘Ya terserah kamu ajalah Din” terdengar mbak Ocha menyerah.
 
Kucing Yang Baik Hati
Si Merah dan Si Hitam

Huh! Dasar kucing kampung, mereka mengikutiku masuk rumah juga meski dengan perlahan-lahan takut kena gebuk. Mbak Ocha nampaknya tak keberatan, dia bilang:” Oh ada anaknya, tapi kok beda ya?” Ah mbak Ocha ini gimana sih? Masak aku punya anak dua kunyuk itu. Ya gak mungkinlah. Lagipula aku kucing jantan, bukankah hanya kucing betina yang merawat anak-anaknya? Mana ada dalam sejarah kucing jantan merawat anaknya sendirian? Mending ditinggalin cari lagi kucing betina lainnya.

Sejak saat itu aku aku lupa rumahnya Bu Salim. Sama sekali aku tak pernah pulang. Di sini sangat nyaman, makanan disediakan, aku disayang-sayang, tempat tidurku pun juga empuk. Tapi aku kesal pada diriku sendiri yang selalu berbagi kegembiraan dengan kedua teman kunyukku. Mereka suka masuk ke rumah, makan makananku dan tidur di kasur empuk sepertiku. Sejauh ini mbak Ocha diam saja tak mempermasalahkan. Tapi ketika ada yang buang kotoran di dalam rumah, mbak Ocha jadi repot karenanya. Kasihan juga, sudah menolong tapi malah kena getahnya. Dua teman kunyukku tak lagi boleh bermalam di rumah.

Terkadang aku menyelinap keluar malam-malam saat pintu dapur dibuka. Aku mencari kedua teman kunyukku, memastikan keberadaan mereka. Aku temukan mereka sedang duduk-duduk di dekat masjid. Aku hampiri mereka, eh mereka malah menodongku :”Ada makanan gak?” “Ya gaklah, aku gak bisa bawakan mereka makanan, lagipula tak mungkin aku membawa mereka masuk rumah selarut ini. Aku menemani mereka duduk-duduk mengobrol. Kasihan mereka yang masih sekecil ini. Wajahnya sama, hanya berbeda bulu saja yang satu warna bulunya sama denganku sedangkan yang satunya lagi bulunya berwarna kehitaman. Mereka adalah saudara kembar yang disia-siakan majikannya. Sungguh kasihan. Maka itu aku selalu memastikan keberadaan dan makanan mereka. Jika di rumah ada makanan berlebih, pasti aku akan memanggil mereka sekedar untuk makan dan duduk-duduk di dalam rumah. Siang hari tentu saja, sebab mereka takkan menginap di rumah ini.


Kucing Yang Baik Hati
Si Merah sedang nenen

Kedua kunyuk temanku ini sangat manja denganku. Entah aku ini dianggapnya apanya. Aku merasa sangat geli ketika Si Merah menelusupkan kepalanya ke bagian tetekku seolah ingin nenen. Apa ya tidak tahu bahwa aku ini berkelamin jantan? Tapi kubiarkan saja kelakuannya itu. Aku merasa maklum, mungkin Si Merah tak pernah diteteki atau diberi ASI sama induknya. Tak berbeda dengan Si Merah, Si Hitam pun demikian. Barangkali dengan berbuat begitu mereka menemukan kenyamanan dan kehangatan yang belum pernah didapatnya selama ini. Yang jelas, kedua teman kunyukku ini suka bermanja-manja denganku.
Terkadang kepala mereka secara bersamaan disentuhkan ke kepalaku. Acap kali mereka berdua tertidur menempel bersentuhan dengan badanku.

Entah mengapa di rumah ini hanya ada mereka berdua, mbak Ocha dan Din Din. Tak ada laki-laki di rumah ini. Maka dari itu aku sangat senang berada di sini menemani mereka. Meski aku seekor kucing tapi aku kan laki-laki. Biar aku sebagai laki-laki yang ada di rumah ini turut menjaga mereka.


Kucing Yang Baik Hati
Uki bermain dengan Binggo

Kudengar mereka belum ada sebulan pindah ke rumah ini. Mereka meninggalkan tujuh kucing lokal di rumah lama. Apa karena itu ya mereka jadi perhatian dengan kami bertiga? Mungkin saja sebagai pengobat rasa bersalahnya. Mereka sungguh baik hati. Akupun juga kucing yang baik hati, itu kata mereka lho. Ketika Uki, batita,anak laki-laki tetangga yang suka main ke rumah ini menarik-narik buluku aku diam saja. Ketika Uki memukul-mukul badanku, akupun diam saja tak melawan seperti kucing kebanyakan. Aku serusaha menjadi kucing yang manis agar mbak Ocha dan Din Din selalu suka padaku.

Terkadang kulihat mbak Ocha bersedih dan diam melamun, entah apa yang dilamunkan. Lalu dia mengangkatku dan meletakkan aku di pangkuannya. Dipeluknya aku. Aku sungguh merasakan sesuatu yang hilang dari dirinya. Tapi entah apa. Ketika dia mendekapku ke dadanya, seolah aku merasakan apa yang mbak Ocha rasakan. Laki-laki, ya tentang laki-laki. Aku berharap mbak Ocha segera menemukan apa yang menjadi pelengkapnya.
Aku, Binggo berada di sini untuk kegembiraan mereka, mbak Ocha dan Din Din. 

Catatan: dipek dalam bahasa Jawa artinya diambil untuk dimiliki.