Sunday, October 20, 2013

Pengakuan Dosa

Pengakuan Dosa



Masih sangat awal ketika aku menginjakkan kaki lagi di gereja setelah tadi pagi aku sowan Romo. Setelah mengantar Dinda les, langsung aku menuju gereja. Sore ini aku akan mengaku dosa, setelah belasan tahun lampau.

Suasana sore tanggal 18 Oktober ini sungguh teduh. Aku bertemu dengan Pak Pardi penjaga gereja yang sedang bersih-bersih. Katanya Romo sedang sare, jadi aku menunggu di Goa Maria sambil berdoa Rosario. Hutang doaku masih 3, jd kalo sekarang aku doa rosario berarti masih kurang 2 lagi. Aku ingin menuntaskan bulan Oktober sbg BulanMaria dengan berdoa Rosario setiap hari selama sebulan.

Masih kurang 2 Doa Salam Maria lagi ketika Pak Pardi mengingatkanku bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 5 seperti janjiku dengan Romo. Setelah aku selesaikan Doa Rosarioku, Pak Pardi segera bergegas naik untuk memberitahu Romo. Pak Pardi kemudian turun dan mengatakan bahwa Romo sedang siram, jadi aku menunggu di di ruang tamu paroki. Aku bertanya tentang meja tamu yang berbeda dengan ketika aku datang tadi pagi. Katanya tadi ada yang menikah jadi meja itu dibuat untuk akad nikah secara catatan sipil. Berarti bila suatu saat nanti aku menikah di gereja ini, aku duduk di ruangan ini dengan susunan meja kursi seperti itu. Tentu saja setelah pemberkatan nikah di gereja oleh Romo. Anganku melayang, dengan siapa ya aku juga belum tahu.
Aku duduk dengan buku Puji Syukur dan kacamata di tangan. Sudah kusiapkan daftar dosa dan halaman doa untuk pengakuan dosa.

Akhirnya Romo turun juga, bergegas dia menuju sebuah kamar yang selalu tertutup. Romo duduk kemudian membersihkan meja dari debu sambil bertanya :”Sudah berapa lama tidak mengaku dosa?” Aku yang duduk di hadapannya menjawab sambil tersenyum: “Sudah belasan tahun”. Lalu aku terdiam, menunggu aba-aba darinya.
Pengakuan dosa pun dimulai. Kubuka buku Puji Syukurku dan kubaca :” Bapa, pengakuan saya yang terakhir adalah ..............................................” Kemudian Romo memberi semacam kotbah atau nasehat singkat. Romo ngendika bahwa dosa-dosaku sudah dihapuskan dan bahwa Allah selalu menerima anak-anak hilang yang pulang kembali. Kemudian Romo memberitahu tentang laku tobat yang mesti kulakukan. Sejak saat itu akupun sudah diperbolehkan menerima Komuni lagi. Ini adalah hidupku yang baru.

Aku jadi teringat salah satu bacaan Injil tentang anak yang hilang yang ragu-ragu untuk kembali kepada bapanya, namun ternyata kepulangannya justru disambut bapanya dengan diberikannya pakaian yang bagus-bagus, disembelihnya domba yang tambun dan pesta meriah. Lalu aku, apa ya yang telah disiapkan Allah Bapa bagiku? Aku bukan GR, tapi aku percaya bahwa Tuhan akan memberiku semua yang sangat kubutuhkan selama ini. Tentu, semoga, amin.

Karena masih ada waktu sebelum menjemput Dinda, jadi kupikir sekalian saja melaksanakan laku tobat dari Romo tadi di gereja. Aku masuk ke gereja dan duduk di bangku paling ujung yang terhalang dari pandangan orang. Di tengah-tengah doa terdengar petir bergemuruh keras sekali beberapa kali bersahut-sahutan. Tadi perasaan cuaca tidak begitu gelap, entahlah. Sesudah selesai berdoa aku bergegas menuju parkiran motor dan segera meninggalkan gereja padahal ada dua orang yang juga naik motor menunda kepergiannya karena takut petir. Hujan mulai jatuh semakin lama semakin deras. Kupinggirkan motorku dan kupakai jas hujanku. 

Kembali menuju rumah bersama Dinda dalam lebatnya hujan. Biasa kalo Solo sering mati lampu di saat hujan, begitu juga malam ini. Sepanjang jalan gelap gulita hanya lampu motorku yang menerangi jalan dibantu dengan lampu-lampu kendaraan lain yang kebetulan lewat.

Air hujan jatuh menerpa-nerpa wajahku, rasanya semua basah terkena air. Beginilah berjalan dalam kegelapan dan kehujanan mesti berhati-hati dan perlahan. Begitu juga bila sedang menjalani hidup dalam kegelapan dan tak tahu ke mana akan melangkah, satu hal terpenting adalah mencari sinar atau cahaya agar tak jatuh terperosok. Sinar atau cahaya kehidupan itu bisa kita dapatkan dari Tuhan. Bertekun dalam doa, apapun agama kita, tentu sangat membantu kita berjalan mengarungi kehidupan yang penuh misteri ini.

Artikel Terkait : Kawin Campur

Related Posts:

  • Menulis Ya Menulis Saja Menulis ya menulis saja, tetapi ketika aku dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa aku harus menjaga perasaan banyak orang, tidak boleh menulis yang bersifat sara dan saru, tidak boleh curhat berlebihan, dan sebagainya......… Read More
  • Kegelisahanku Rasanya senang bila ada grup yang mau menampung penulis atau calon penulis yang ingin berkontribusi di buku yang akan diterbitkan. Tentu saja ini merupakan buku karya bersama belasan atau bahkan puluhan penulis. Profit ata… Read More
  • Aku Mengerti Jadi alasannya karena itu? Aku sangat mengerti, tapi mengapa kamu tak balas semua sms dan telponku? Apa kamu takut moodmu menjadi hilang gara-gara membaca smsku? Seharusnya kamu tahu bahwa aku sangat pengertian. Mestiya k… Read More
  • MELUPAKANMU Ketika semua tanya tak terjawab, saat itulah aku harus berpikir ulang .....menimbang-nimbang segala harapku padamu semata. Barangkali semua ini adalah firasat bahwa aku harus segera mengkahiri semua ini. Barangkali semua… Read More
  • Ceritanya Menjadi Saksi Bermula dari seorang tetangga jauh yang memintaku atau tepatnya menawariku menjadi saksi dari sebuah parpol besar. Tawaran itu langsung saja aku ambil. Mengapa tidak? Aku anggap ini sebagai kerja sosial dan mencari pengala… Read More

0 comments: